Friday, February 21, 2014

Surabaya Part 1


Haii…
Are are suroboyo…
Lama ya rasanya tak menulis puisi-puisi geje, tapi sebenernya puisi itu curahan hati penulis, asli -_- hehehe

Kali ini mau sedikit cerita tentang kereta Bandung-Surabaya, ya seputar perjalanan dari Bandung ke Surabaya. Di bilang rame, rame banget, dibilang jenuh jenuh banget secara 20 jam kita di kereta, subhanallah…

Pukul setengah 5 pagi, kami Tim PERCAMA UPI melangkahkan kaki meninggalkan kampus hijau tercinta serta mengantongi namanya untuk berjuang di turnamen kejuaraan catur nasional di salah satu universitas di Surabaya yaitu Universitas Kristen Petra yang bernama Petra Chess Championship 2014. Wuih keren yah denger namanya aja, pastinya, pertandingannya aja di Grand Royal Surabaya yang merupakan salah satu mall besar di kota tersebut.

Oke back to kereta api, harap dimaklum saja, kita memiliki 9 tiket kelas ekonomi, ya kelas ekonomi,eits tapi jangan berfikir sedikitpun bahwa ekonomi itu padet, kotor, bau, sesak, berdiri, apalagi berfikir kalo kita gelantungan di atas kereta kaya zaman-zaman mudik atau kereta di India. Asli, ini kereta walaupun ekonomi, tetep nyaman kok, bersih, tempat duduk lumayanlah bisa menghilangkan pegal di pantat. Kami duduk di gerbong 6, ya ampun itu adalah gerbong paling belakang, hahaha lebih tepatnya no 13 14 dan 15, kami duduk sederet kursi gerbong, oh iya satu lagi kereta ini juga ber AC loh J tau kan Indonesia semakin ke timur semakin memiliki curah hujan yang sedikit so daerah daerah di sini terkenal panas banget.

Berasa di buku 5 cm, ketika tepat pukul setengah 6 pagi matahari malu-malu muncul dari samping jendela, sejenak berfikir, kenapa di samping jendela, bukannya matahari terbit di timur dan kita menuju arah jawa timur, logikanya matahari seharusnya muncul persis di depan kereta. Tapi entahlah,  mungkin kereta ini ingin mengajak kita berjalan jalan terlebih dahulu, dan akhirnya kereta gagal mengejar matahari.

Stasiun demi stasiun telah kami lewati, matahari sudah agak meninggi, sampai di daerah Tasikmalaya,, pemandangan jadi hijau, ya hijau saja, kereta kami seperti membelah bukit, kami berada diantara bukit-bukit kecil dan matahari pun tak terlihat lagi.

Sampai di daerah banjar, tiba-tiba kereta kami ramai oleh para pedagang  yang masuk ke kereta, maklum kelas ekonomi, hehehe. Asli ya, pusing banget, semuanya menawarkan dagangannya mulai dari nasi rames, nasi ayam, nasi telor dan nasi nasi lainnya, tak ketinggalan penjual kopi dan pop mie pun ikut meramaikan gerbong. Sedikit laper melihat makanan makanan itu, tapi yah berasa masih pagi dan bekal rotiku masih stay di dalem tas.

Entahlah melihat para pedagang itu hati ini bergetar, sedikit membayangkan bagaimana jika salah satu diantara mereka itu adalah orang tua kita  yang setiap harinya turun naik kereta hanya untuk mencari rizki, tapi aku tak mau membayangkannya lagi, aku memalingkan wajahku ke jendela, melihat tetesan-tetesan embun yang hinggap di daun-daun besar itu.

Perjalanan pun semakin jauh, beratus-ratus kilometer kita lalui, oh iya, kita belum perkenalan ya, ini yang duduk di sebelahku namanya teh Nina dan Yohanes di depanku teh Melia dan Riri, diseberang sana ada Kang Yahya dan Bagus lalu di depan mereka ada Kang Irfan dan Tomy. Mereka itu sudah seperti keluargaku, aku menyayangi mereka semua J nyanyian dan petikan gitar serta celotehan-celotehan dan bulian selalu mengisi tawa kita semua, korbannya ya bergantian, tapi percaya atau tidak semua pasti kena bully, hahaha tapi itu justru menambah kedekatan kita. Yah yah gens una sumus…..

7 jam kemudian, kereta kami sampai di jogja, budaya jawa pun sudah terlihat di sini. Stasiun di jogja ini sangat besar dibandingkan stasiun-stasiun yang kami lewati sebelumnya. Para pedagang mulai meramaikan kereta kami lagi. Sepertinya aku dan yang lainnya mulai lapar, roti di tasku sudah lama berpindah tempat ke perutku, kita memutuskan untuk hunting makanan,  aku dan teh Nina menargetkan pecel yang pedesss, hahaha meski akhirnya kami hanya membeli nasi gudeg  plus ayam friedchicken-friedchikenan, hahaha untuk kali kedua aku menginjakan kaki ke jogja. Hehe padahal hanya untuk membeli beberapa nasi bungkus.

Setelah makan, terlihat personil percama bermata sayu, mungkin kantuk mulai menggelayuti mata kami, beberapa personil sudah asyik dengan mimpinya, teh Melia, Riri, dan teh Nina juga terlihat tertidur lelap, Yohanes juga tak terdengar lagi celotehan ngaurnya yang bikin kita tak bisa menahan tawa, ya ia juga sudah asyik dengan mimpinya. Aku melihat ke seberang, kang Yahya dan bagus asyik dengan komputernya masing-masing, tomy menghilang, dan kang Irfan asyik dengan buku kalkulusnya, ya ampuuuun… aku? Hehehe aku asyik dengan lamunanku, sedikit mengantuk tapi entahlah tak ingin rasanya mata ini terpejam.

Matahari yang sedari tadi terlihat gagah di angkasa, kini mulai menghilang, jendela kereta kami pun telah bersatu dengan gelap. Hanya lampu-lampu kecil dari kejauhan yang terbiaskan kaca. Indah, ya memang indah, tak henti-hentinya aku mengucap syukur pada-Nya….

Sekilas di kereta, sebenernya masih banyak hal menakjubkan yang kutemui saat di kereta bersama mereka, tapi sulit rasanya melukiskannya dengan kata-kata karena itu adalah sebuah perasaan. Perasaan kekeluargaan yang begitu indah dan berarti…

Terimakasih TUHAN… terimakasih PERCAMA J

No comments:

Post a Comment