Friday, June 14, 2013

Teruntuk Bantenku


Bantenku sayang ... !!!
Aku mengenalmu gagah dan perkasa. Keindahan alammu tersaji di berbagai sudut menjadi bukti kecantikanmu. Tak hanya itu, sifatmu yang terkenal religius menjadi cermin pribadi yang baik.
Entahlah, rupanya kini kau telah tumbuh dewasa. Para pribumi mulai meninggalkanmu.
Kau tak terurus ! kumuh dan menua.
Tunas bangsamu juga diragukan. Bayangkan kawan, mereka tak mendapatkan haknya. Mereka dituntut untuk mengolah otot-ototnya hanya untuk sesuap nasi. Ya Tuhan, mereka terlalu kecil untuk melakukan itu. Seharusnya mereka duduk manis dan bermimpi menggapai cita-citanya.
Kawan, Apa ini yang di sebut bumi perkasa ? Yang muda mengais rezeki, yang tuapun harus tetap menimba nafkah.
Miris. Sangat miris.
Aku sekarang tahu. Rupanya semangatmu telah hangus. Puing-puingnya tak mampu terselamatkan. Ribuan pengangguran merajalela dari ujung ke ujung. Tapi, apa harus buah hatinya yang menggantikan perannya ?
Bantenku sayang ... !!!
Aku hanya bisa menangis dalam hati, ketika kematian semakin sering menjamah malaikat-malaikat tak berdosa itu. Kelaparan, gizi buruk, dan penyakit nakal lainnya terlalu kejam berkunjung tak henti-hentinya.
Kadang aku berfikir. Apa orang-orang dermawan juga telah mati ? sehingga uluran tangannya terhenti begitu saja.
Bantenku sayang ... !!!
Kecantikanmu mulai luntur oleh tangan-tangan kotor.
Banjir, longsor, dan kekeringan, sepertinya balasan atas sikapmu yang acuh tak acuh. Kejam jika kita menyalahkan Tuhan, sadarlah kawan, semua itu karena kebodohan kita. Kita yang tak adil pada alam. Kita yang egois. Kita yang terlalu sombong bahwa semua ini milik kita.
Bantenku sayang ... !!!
Sudah muak jika kali ini aku menangis. Aku tertawa melihat khalifahku yang diberi amanahmu, ilmumu, dan kedudukan di duniamu.
Rasanya aku ingin berteriak, marah dan berontak. Tapi aku hanya kaum kecil yang terlalu awam untuk mengerti. Aku takut aku telah lancang menegurmu.
Ya Tuhan berilah mereka bimbingan untuk sedikit saja melihat kami. Melihat rakyatnya yang memunguti deritanya.
Ya Tuhan, ijinkan kami menjadi hantu di setiap nasi yang mereka lahap. ijinkan kami menjadi mimpi buruk di setiap nyenyak tidurnya.

No comments:

Post a Comment