Friday, June 14, 2013

Pahlawan Hujan Tari

Takdir itu memang musuh yang nyata bukan ? ya ! sekeras apapun kita menentang takdir, takdir itu tak akan mungkin dapat kita rubah. Seperti halnya burung yang mempunyai sayap, mereka ditakdirkan untuk terbang, bukan untuk merangkak. Juga seperti api, ia ditakdirkan untuk menghangatkan, bukan untuk menyejukan. Tapi mengapa takdir kadang tak sejalan dengan apa yang kita kehendaki ? tentu, manusia hanya bisa berencana, tak tau apa yang akan terjadi dikemudian hari. kita hanya bisa mempersiapkan diri sebelum takdir menghianati kita.

Malam sunyi. Gemuruh angin masih mengelus kasar telinga seorang gadis remaja usia 16 tahun. Mengingatkannya kembali kepada peristiwa 5 tahun lalu. Peristiwa yang merebus hati. Menyisakan luka dalam yang hingga kini masih sulit untuk terobati. Takdir telah menghianatinya. Takdir merenggut tawanya. Takdir merampas semangatnya.

Pagi itu. Sepasang sepatu mungil mencoba melawan hantaman hujan lebat. Awalnya ia takkan melakukan itu jika saja ibunya menjemputnya seperti anak-anak yang lain. Ibunya memang bukan orang berada yang bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk menjemput anak perempuanya seperti orang tua lainnya. Waktunya ia gunakan untuk bekerja dan bekerja, mengais rejeki semampunya, agar bisa terus melanjutkan hidup.

Suara hujan yang sangat nyaring melenyapkan suara-suara disekitar anak perempuan itu. Membuatnya tak menyadari kehadiran seorang anak laki-laki yang mengikutinya. Mengenakan seragam yang sama. Tapi tampak berbeda. Mungkin karena warnanya yang telah pudar. Ya, dia cipta. Anak malang yang di tinggal kedua orang tuanya sejak kecil dan tinggal bersama sang nenek hingga saat ini.
Tiba-tiba. Anak perempuan itu memalingkan wajahnnya ke belakang. Terkejut. Sesosok anak laki-laki tampan mengahadapnya. Tersenyum. Memegang sebuat payung butut yang penuh lubang.

“Tari, maukah kau pulang bersamaku ?” ,akhirnya kata itu menghambur keluar dari mulutnya, setelah hampir setengah perjalan mereka tempuh.
“sungguh”. Balas anak perempuan itu mendekatinya.
“ya. Kau mau ?”
“tentu”

Anak laki-laki itu melayangkan payungnya di atas anak perempuan itu. membuat air hujan menginjak-injaknya. Tak peduli. Asalkan anak  perempuan itu tidak merasakan lagi sakitnya injakan air hujan.

Bruuuk..

Payung itu terjatuh. Begitu juga anak laki-laki yang memegangnya. Shok. Tak tau apa yang harus dilakukan anak perempuan itu melihat pahlawan hujannya tergeletak jatuh tak berdaya.

“Cipta. Apa yang terjadi ? mengapa bisa seperti ini ? Cipta. Cipta. Bicaralah”. Percuma. Tak ada jawaban darinya. Hanya wajah pucat di hadapannya  yang membuatnya ketakukan.

Hujan semakin lebat. Di  sekeliling. Tak ada siapapun. Tak ada yang bisa diharapkan bisa membantu. Ia memutuskan merangkul anak laki-laki itu dan membawanya sampai bertemu orang yang bisa menyelamatkan.

“Ada yang mendengarku. Tolonglah aku.”. teriak anak perempuan itu sambil mengusap wajah pucat si anak laki-laki. Mereka terus menyusuri jalan yang terhalang kabut dan hujan. Mereka melupakan payung yang penuh lubang itu, sehingga hujan kembali menginjak-injak tubuhnya.

Tak mampu lagi melangkah. Anak perempuan itu terjatuh. Menimpa tanah yang penuh lumpur. Hening.~

***
Mereka mendapati tengah terbaring di sebuah rumah mungil. Mata anak perempuan itu menyapu-nyapu ruangan. Berhenti. Melihat Cipta yang masih memejamkan mata. Memandangnya dengan penuh rasa bersalah. Ia tak melihat Cipta menghirup udara. Dengan penuh ketakutan, ia meraih leher Cipta. Memegangnya dengan ragu. Diam. Tak bergerak. Cipta benar-benar tak menghirup udara.

Keringat dingin, perut kejang menimpa anak perempuan itu. Lagi. Ia di takutkan dengan kengerian luar biasa. Pada saat itu ia mengetahui bahwa Cipta telah tiada. Pahlawan hujannya itu harus pergi meninggalkan dunia ini. Sungguh menyakitkan baginya. Tak terbayangkan bahwa tadi adalah kali terakhir ia menebar senyum dan memancarkan cahaya matanya. Kini ia hanya bisa berbaring dengan wajah pucat dan tubuh yang membeku.

Teriakan dan tangisan menggema di sekitar rumah mungil berisi dua anak 12 tahun yang masih mempunyai mimpi dan harus dikhianati sang takdir.

***
Genap dua tahun setelah kejadian itu. Sedikit anak perempuan itu tumbuh menjadi gadis remaja. Mencoba melupakan peristiwa pahit yang menimpanya. Memang tak mudah. Tapi terus ia coba. Hingga suatu hari. Kejadian yang tak diinginkan terjadi.

Tari tengah duduk di bangku kelasnya. Sendiri. Di ruang kelas yang sanggat luas. Ia memang sendiri disana, tapi ia tak merasa sendiri. Ia merasa ada seseorang yang menemaninya dan melindunginya.

Tiba-tiba tari terpejam lemah, menyandar ke bangkunya. Seorang anak melihatnya. Terkejut. Memanggil anak lain untuk membantunya.
Tari hendak di bawa ke UKS. Dalam perjalanan ia terbangun.  Tatapannya tak biasa, seolah hanya memandang satu objek lurus di depan. Anak lain terlihat heran. Mereka menurunkan Tari. Membiarkannya berjalan menuju sesuatu yang ia tuju.

Dan kau tau apa yang ia tuju ? ia menuju tangga sekolah. Hendak menjatuhkan dirinya sendiri.
“ Tari... “, teriak seorang anak menghentikan langkahnya. Tari menoleh dan hanya melebarkan matanya. Tatapannya mengerikan, penuh kebencian. Anak-anak di sana menjerit ketakutan. Tapi ia tak peduli. Semua ia hiraukan. Langkahnyapun semakin pasti menghampiri ujung tangga.

Bruuk....

Seseorang mendorongnya. Bukan mencelakakannya, tapi untuk menolongnya. Dia  Hanifah, salah satu sahabat terdekat Tari. Mereka terjatuh. Hanifah merangkul Tari. Ia tahu bahwa Tari tak sadar, ia tahu Tari sedang berkelahi dengan seseorang yang mencoba menguasai raganya. Hanifah mengusap kepalanya yang dingin penuh keringat. Mengucapkan beberapa kalimat Al-qur’an untuk membantunya. Tak berhasil. Tari semakin sangar dan menakutkan.

“Lepaskan indri... “. Kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Memandang hanifah yang mencoba menjeratnya.
“Indri?”, Hanifah terkejut. “Kau. Cipta”, lirihnya. Ya, karena hanya Cipta yang memanggil Hanifah dengan panggilan indri, Hanifah Indriani.

Seorang anak berlari menuju ruang guru untuk menyusul guru matematika kesayangan Cipta semasa ia hidup dulu, yang selalu menjadi teman setia jika kesulitan menghampirinya. Bu Laras, yang diharapkan bisa membantu menangani kejadian ini.

“Hanifah, apa yang terjadi?”, tanya guru matematika itu.
“Bu, dia Cipta”, tunjuk Hanifah pada Tari.
“Apa?”. Bu Laras memandang Tari yang masih uring uringan tak jelas, teriak-teriak, mengucapkan kata-kata yang seharusnya tak diucapkan. Tak sering juga ia melempar barang-barang yang ada di sekitar. Bu Laras berusaha meraihnya. Menggenggam tangannya, menatapnya penuh kasih sayang.

“Cipta, benarkah itu kau? kemari nak”, entah sihir apa yang digunakan bu Laras sehingga Tari mengehentikan segala perbuatan anarkisnya. Tari mendekat. Menjatuhkan kepalanya di bahu bu Laras.

“Cipta, apa kau merindukan kami sehingga kau datang?”, lirihnya sambil memeluk erat gadis remaja yang di isi ruh seorang anak laki-laki malang.

“Bu, Cipta sendiri, Cipta kesepian, Cipta dingin di sana”. Ujarnya dengan sendu. 
Bendungan bu Laras jebol. Tangisan tak tertahankan mendengar sepatah kalimat itu. Setengah tak percaya, orang yang telah pergi dan takkan mungkin kembali, kini ada dihadapannya. Walau bukan dengan raga dirinya.

“Dengar ibu, sayang”, bu Laras membekap dadanya, menguatkan dirinya sendiri. “Kau tak sendiri, do’a kami selalu menemanimu, cinta kami tak pernah putus untukmu, yakinlah itu”, bu Laras mencoba meyakinkannya.

“Aku hanya ingin Tari menemaniku di sana, agar aku tak kesepian”. Ujarnya lagi, kali ini dengan tangisan.

“Bukankah kau menyayanginya?”
“Ya, hingga saat ini”
“Dan kau ingin melihatnya bahagia?”
“Tentu”
“Lepaskan Tari, Cipta, kembalilah, ini bukan duniamu”. Bu Laras melepaskan pelukan dan kembali menatap matanya yang kali ini polos.

“Ibu ingin Cipta pergi? Ibu sudah tak menyayaiku?”.
“Kau tahu, jika ditanya  siapa orang di sekolah ini yang paling ibu sayang, ibu akan menjawab itu kau”. Bu Laras mengusap wajahnya seperti seorang ibu kepada anaknya.

“Walau aku tak nyata?”
”Ya, sekarang  kembalilah, tunggu kami di sana. Disana jauh lebih baik untukmu. Percayalah”. Senyum bu Laras mengembang padanya.
“Baiklah, aku akan pergi untuk ibu, karena aku menyayangimu. Tapi berjanjilah, jika sudah saatnya, temani aku disana”.
“Pasti, pasti sayang”

“Satu lagi, aku ingin Tari bahagia. Titip salamku untuknya”. Tari menggenggam tangan bu Laras, tentu atas kehendak Cipta. “ Indri”. Memalingkan wajahnya pada Hanifah,”sampaikan, bahwa aku merindukannya”

Bruuuk...

Tari kembali terjatuh. Beberapa menit kemudian, Ia membuka matanya, melihat sekelilingnya. Penuh tangisan. Bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya.
Setelah ia membaik, hanifah menceritakan kejadian yang menimpanya. Tentang Cipta yang datang kedalam raganya, Cipta yang merindukannya, segalanya. Memang sulit di percaya. Tapi itu kenyataan dan ia harus mengetahuinya. Tak sanggup, Tari hanya bisa mememeluk lututnya dan melelehkann air matanya. Dan ia menyadari betapa ia juga merindukan pahlawan hujannya.

Sejak saat itu, kehidupan Tari menjadi tak normal. Ia lebih cenderung menyendiri, diam, dan tertutup. Tak jauh beda saat pertama-tama Tari kehilangan Cipta. Mimpi buruk tentangnya selalu menghampirinya setiap malam ditidurnya. Ibunya hanya bisa menangisi keadaan anak perempuan semata wayangnya itu, dan berharap senyum Tari kembali.

No comments:

Post a Comment